Fakhrum’s BLOG

this is what u know as BLOG

  • November 2017
    M T W T F S S
    « Mar    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

Archive for the ‘BerFiLOsofI Ria’ Category

“CINTA” itu…

Posted by fakhrum on September 16, 2008

Pernah mencoba mencari arti ‘cinta’?

Gampang aja, tinggal tanya sama mbah google, kasih keyword “definisi cinta”, nanti keluar berbagai macam situs maupun blog yg memberikan definisi cinta itu.

Banyak sekali orang2 yg mencoba memberikan definisi ‘cinta’. Entah berbekal pengalaman, pengetahuan maupun mencoba mendefinisikannya sesuai kata hati. Dari berbagai definisi cinta yg pernah gw dengar, baca, dan simpulkan sendiri…, cuma sedikit yg membuat gw benar2 merasa kesemutan dari dada sampe ujung kepala dan berkata “itu baru cinta”.

Salah satu definisi cinta yg pengen gw bagi2 ke semuanya ini dikutip dari kata2 Gde Prama di acara ‘kick andy’

Cinta

Cinta itu sebuah perjuangan
Cinta tidak pernah datang dengan cara murah datang dari langit
Semuanya harus kita perjuangkan
Dan seringkali cinta itu baru mekar setelah kita melewati berbagai macam derita
Derita bukan musuhnya cinta
Derita itu sedang membuat cinta jadi lebih dewasa

Ngeri banget tuh kata2nya. Jadi, jangan pernah menunggu cinta, akan tetapi cari dan bentuklah sendiri cinta itu.

Advertisements

Posted in BerFiLOsofI Ria | 7 Comments »

nYaNG katAnyA sAHabaT SejatI

Posted by fakhrum on June 20, 2007

arti sahabat sejati….

konon katanya sahabat adalah kata lain dari teman sejati (level lanjutan dari teman)

Siapa yg bisa mengartikan sahabat sejati? apa parameter dan requirmentnya? si A bilang kalo sahabat tuh yg begini, begini, dan begini; tapi si B bilang kalo sahabat tuh harusnya begitu, begitu, dan begitu. Jadi, siapa yg benar donk? Apakah teman sejati itu orang yg paling kenal kita ato paling kita kenal? ataukah yang paling sering bersama kita?

Saya dari dulu beberapa kali beranggapan bahwa saya sudah menemukan sahabat sejati, tapi ternyata tidak sesuai perkiraan, walaupun orang lain bilang bahwa itu sudah dinamakan sahabat sejati.

Pandangan saya, apapun deskripsi kita tentang sahabat sejati, gk usah capek2 cari sahabat sejati, tapi “jadilah sahabat sejati” bagi orang lain, dengan begitu kita akan menemukan sahabat sejati kita dengan sendirinya…

Posted in BerFiLOsofI Ria | 1 Comment »

Berkorban demi orang lain…?????

Posted by fakhrum on June 14, 2007

Salah satu hal yg menentukan seseorang dalam berkomunikasi adalah dengan mengangkat ego lawan bicaranya. Maksudnya adalah dengan membuat lawan bicaranya merasa spesial, tapi hati2 jg, jgn sampai kelihatan seperti “menjilat” :D.

Jika kita bisa menghormati dan memuliakan orang lain secara tulus, dan jika hal tersebut sudah menjadi attitude kita, maka hubungan baik terhadap lingkungan akan tercipta dengan sendirinya.

1 hal yg menjadi pemikiran saya, tidak selamanya kita harus mendahulukan orang lain, terkadang kita harus “sedikit egois” jika kita ingin mendapat kehidupan yg baik. “Kehidupan memang keras saudara…” bagaimana kita bisa bertahan di kehidupan ini tergantung dari keputusan dan keyakinan kita. Jangan ragu untuk menolak keputusan yg merugikan kita walaupun untuk menolong orang lain, contohnya meminjamkan uang kepada orang lain sehingga orang tersebut dapat makan sehingga diri sendiri tidak ada uang untuk makan. kalau dibuat kalimatnya “gk pa2 aku gk makan, yg penting orang lain bisa makan” alias berkorban demi orang lain.

Tidak sedikit orang yg seperti itu, dan orang yg seperti itu entah mungkin terlalu baik, atau memang bodoh. Seharusnya jika ingin menolong orang lain hendaknya menolong diri sendiri dulu. ya gk??? membantu orang lain tapi mendzolimi diri sendiri, apa gk sama aja bohong tuh??? Jika kita memiliki kelebihan barulah kita bisa memberikannya kepada orang lain.

huff…. sebenarnya ini semua bentuk pemikiran semata. Saya sendiri masih tergolong dalam orang2 yg entah terlalu baik atau bodoh tersebut :D. Saya sendiri masih berusaha untuk memberi more value terhadap kehidupan saya sendiri.

Menurut pemikiran saya sendiri, semua tetap tergantung keputusan tiap2 individu, yg penting tiap2 individu tersebut sudah ‘prepare something for encounter’ dan mengetahui konsekuensi dari keputusan yg diambil.

Posted in BerFiLOsofI Ria | 1 Comment »

bahaya “berpikir” positif

Posted by fakhrum on April 6, 2007

Membaca judulnya saja sudah pasti anda akan bertanya-tanya, “apa nih maksudnya?” Apalagi bagi beberapa orang yang sudah mengenal saya, pasti ada yang berpikir “biasanya nih orang berkoar-koar untuk ngajak orang berpikir positif, tapi sekarang malah bilang kalo berpikir positif itu bahaya, gimana sih???”.

Seperti judulnya sendiri, kata berpikir disitu saya beri tanda petik (“) berarti pasti ada maksud lainnya. Jadi, jangan protes dulu ya 😀

Saya sendiri sudah terkena efek negatif dari “berpikir” positif itu. Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.
Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita “percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi? Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap “percaya” dan “positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, “Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, “Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif. Lalu, mengapa “berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita?

Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatif, “Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi. Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, “Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatif?

Dari pengalaman saya, kata “goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatif. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak teman saya yang jujur berkata, “Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatif. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata “goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatif ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatif, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatif. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, “Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Salah satu teknik yang pernah saya ikuti pelatihannya adalah NLP (Neuro Linguistic Programming) -mungkin ada beberapa yg sudah tau-, dengan trainer Tommy Siawira. Dengan berbagai cara, kita bisa men-set pikiran bawah sadar kita (mind setting). Jika pikiran bawah sadar kita bisa kita kuasai, maka kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Akan panjang jika saya terangkan disini. Kalau ada pertanyaan atau ingin berdiskusi, bisa langsung menemui saya 🙂

Posted in BerFiLOsofI Ria | Leave a Comment »

u iS wHat U’r thiNKinG

Posted by fakhrum on February 17, 2007

pasti banyak sudah tahu bahwa kondisi psikis manusia bisa mempengaruhi sikap tubuh manusia itu sendiri. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami hal2 yg buruk dan membuat orang tersebut sedih, maka kita bisa melihat raut wajahnya yg berubah menjadi suram, kepala menunduk, bahu membungkuk dan sebagainya. Dan ketika seseorang mengalami kejadian yg menyenangkan, maka orang tersebut akan memiliki wajah yg ceria, kepala terangkat, dan dada membusung kedepan.

Dari fakta tersebut, pernakah kita memikirkan sebuah analogi yg bisa merubah kehidupan kita???

hal tersebut tidak lain adalah mereverse sifat tubuh dan psikis kita. Jika kita melihat fakta diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa sikap tubuh kita mengikuti keadaan psikis kita. Jika kita mereverse pernyataan tersebut, maka kita bisa bilang bahwa sikap tubuh bisa mempengaruhi keadaan psikis kita. Keadaan psikis kita tergantung dari keadaan sekitar kita dan hal tersebut jelas inevitable atau tidak bisa dihindari. Tapi, sikap tubuh kita murni dipengaruhi oleh OTAK kita sendiri dan hal tersebut jelas bisa kita lakukan kapanpun kita mau.

So, jika kita ingin memiliki keadaan psikis yg positif, ubahlah sikap tubuh menjadi sikap tubuh orang yg memiliki aura positif. Berdiri tegap, kepala terangkat keatas seperti memandang sebuah harapan yg akan digenggam, kembangkan senyum, bernafas seperti orang yg sedang gembira, bahu tegap, dada dibusungkan. Setelah melakukan hal tersebut, aura positif akan terpancar dari diri kita.

Frequently Asked Question : Is it true???

Answer : Why don’t u try it u’rself…

Posted in BerFiLOsofI Ria | Leave a Comment »